Fish

Selasa, 27 November 2012

ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS DAN THYPUS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Gastritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok kondisi dengan satu hal yaitu radang selaput perut. Peradangan ini  (gastritis) sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang menyebabkan radang perut yang paling sering ditemukan.
Di negara berkembang prevalensi infeksi Helicobacter Pylori pada orang dewasa mendekati angka 90%. Di Indonesia, prevalensi kuman ini menggunakan urea breath test. Penelitian serologis yang dilakukan secara cross sectional bertambahnya prevelansi penyakit ini sesuai dengan pertambahan usia. Penyebab penyakit ini adalah gram negative, basil yang berbentuk kurva dan batang.
 Namun, banyak faktor lain seperti cedera traumatis, penggunaan obat penghilang rasa sakit tertentu atau minum alkohol terlalu banyak – juga dapat berkontribusi untuk terjadinya gastritis.
Gastritis dapat terjadi secara mendadak (gastritis akut) atau bisa terjadi perlahan-lahan dari waktu ke waktu (gastritis kronis). Dalam beberapa kasus, gastritis dapat menyebabkan bisul (ulkus) pada lambung dan peningkatan risiko kanker perut. Bagi kebanyakan orang, gastritis tidaklah serius dan dapat dengan cepat mereda bahkan sembuh dengan   pengobatan.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan gastritis.
2.      Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu :
·      Memahami pengertian gastritis beserta  penyebabnya.
·      Memahami patofisiologis gastritis .
·      Memahami penatalaksanaan medis keperawatan pada  gastritis.
·      Memahami pengkajian keadaan kesehatan pada klien dengan gastritis.
·      Memahami rencana asuhan keperawatan pada klien dengan gastritis berdasarkan pengkajian.
C.     Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menggunakan metode studi kepustakaan.
D.    Sistematik Penulisan
Sistematik dalam penyusunan makalah ini yaitu, Bab I ( Pendahuluan ) : latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II ( Tinjauan Teoritis ) : konsep dasar gastritis; yang meliputi : pengertian, etiologi, patofisiologis,  manifestasi klinis, pemeriksaan diagnosis, pemeriksaan penunjang, pencegahan, komplikasi, penatalaksanaan; dan  konsep dasar  asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan gastritis, yang meliputi : pengkajian, diagnosa, intervensi.





















BAB II
TINJAUAN TEORITIS

       I.            Konsep Dasar Gastritis
1.      Pengertian
a.       Menurut Hirlan dalam Suyono (2001: 127), gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung, yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain.Secara hispatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel
b.      Menurut Lindseth dalam Prince (2005: 422), gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal.
c.       Gastritis adalah peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung, yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. ( Charlene J, Reeves, 2001 )
Dari defenisi-defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi, dan ketidakteraturan dalam pola makan.


Gastritis dibagi menjadi 2 :
a.       Gastritis Akut
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiritasi mukosa lambung. Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi :
1.)   Karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasi lambung. Lambung akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3.
Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung . Jika asam lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan & elektrolit.

2.)   Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik.

b.      Gastritis Kronik
Gastritis kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan sel chief.
Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin dan fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis serta mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi perdarahan serta formasi ulser

2.      Etiologi
Penyebab penyakit ini antara lain :
a.       Sering mengkonsumsi obat analgetik anti inflamasi, terutama aspirin.
b.      Bahan-bahan kimia.
c.       Merokol.
d.      Alkohol secara berlebih.
e.       Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat.
f.       Refluks usus ke lambung.
g.      Endotoksin
h.      Infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang hidup di dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung dan infeksi bakteri Campylobacter Pyloroides.

3.      Patofisiologi
a.       Anatomi dan Fisiologi
1)      Lambung adalah sebuah kantong otot yang kosong, terletak dibagian kiri atas perut tepat dibawah tulang iga.
2)      Lambung orang dewasa memiliki panjang berkisar antara 10 inci dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon.
3)      Bila lambung dalam keadaan kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan – lipatan tersebut secara bertahap membuka.
4)      Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap melepaskannya kedalam usus kecil. Ketika makanan masuk kedalam esofagus, sebuah cincin otot yang berada pada sambungan antara esofagus dan lambung ( Esophangeal Sphincer ) akan membuka dan membiarkan makanan masuk lewat lambung.
5)      Setelah masuk kelambung cincin ini menutup. Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada dilambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar – kelenjar yang berada dimucosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung ( termasuk enzim – enzim dan asam lambung ) untuk lebih menghancurkan makanan tersebut.
6)      Suatu komponen cairan lambung adalah Asam Hidroklorida. Asam ini sangat korosif sehingga paku besipun dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh mucosa – mucosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara reguler sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung ) sehingga terhindar dari sifat korosif hidroklorida.
7)      Fungsi dari lapisan pelindung lambung ini adalah agar cairan asam dalam lambung tidak merusak dinding lambung. Kerusakan pada lapisan pelindung menyebabkan cairan lambung yang sangat asam bersentuhan langsung dengan dinding lambung dan menyebabkan peradangan atau inflamasi. Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung.


b.      Patofisiologi
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001 perjalanan penyakit gastritis bisa dilihat dari skema dibawah ini :

F.imunologi,F.bakteriologik, Faktor lain
Infiltrasi sel-sel radang
Atropi progresif sel epitel kelenjar mukosa
Kehilangan sel parietal dan chief sel
Produksi asam klorida, pepsin dan faktor intrinsik menurun
Dinding lambung menipis
Kerusakan mukosa asam lambung
Nyeri ulu hati, mual, muntah, anoreksia

Pada skema diatas di jelaskan bahwa obat-obatan, alkohol, garam empedu atau enzim-enzim pankreas dapat merusak mukosa lambung (gastritis erosif), mengganggu pertahanan mukosa lambung dan memungkinkan difusi kembali asam pepsin kedalam jaringan lambung, hal ini menimbulkan peradangan. Respon mukosa lambung terhadap kebanyakan penyebab iritasi tersebut adalah dengan regenerasi mukosa, karena itu gangguan-gangguan tersebut sering kali menghilang dengan sendirinya. Dengan iritasi yang terus menerus, jaringan menjadi meradang dan dapat terjadi perdarahan. Masuknya zat-zat seperti asam dan basa kuat yang bersifat korosif mengakibatkan peradangan dan nekrosis pada dinding lambung (gastritis korosif). Nekrosis dapat mengakibatkan perforasi dinding lambung dengan akibat berikutnya perdarahan dan perionitis.
Gastritis kronik dapat menimbulkan keadaan atropi kelenjar-kelenjar lambung dan keadaan mukosa terdapat bercak-bercak penebalan berwarana abu-abu atau kehijauan (gastritis atropik). Hilangnya  mukosa  lambung akhirnya  akan mengakibatkan  berkurangnya  sekresi  lambung  dan timbulnya  anemia  pernisiosa.  Gastritis  atropik  boleh  jadi  merupakan pendahuluan  untuk karsinoma lambung. Gastritis kronik dapat pula  terjadi bersamaan  dengan  ulkus  peptikum  atau  mungkin  terjadi  setelah  tindakan gastroyeyunostomi.
Gastritis  kronik  dapat  diklasifikasikan  tipe  A  atau  tipe  B.  Tipe  A (sering  disebut  sebagai  gastritis  autoimun)  diakibatkan  dari perubahan  sel parietal,  yang  menimbulkan  atropi  dan  infiltrasi  sel.  Hal  ini  dihubungkan dengan  penyakit  otoimun,  seperti  anemia  pernisiosa  dan  terjadi  pada fundus atau korpus dari  lambung. Tipe B (kadang disebut  sebagai gastritis H.  Pylori)  ini  dihubungkan  dengan  bakteri  H.  Pylori,  faktor  diet  seperti minum  panas  atau  pedas,  penggunaan  obat-obatan  dan  alkohol,  merokok atau refluks isi usus kedalam lambung.

4.      Manifestasi Klinis
·         Gejala gastritis secara umum:
-            Hilangnya nafsu makan.
-            Sering disertai rasa pedih atau kembung di ulu hati, mual dan muntah.
-            Perih atau sakit seperti rasa terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan.
-            Perut terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan.
-            Kehilangan berat badan
Gejala-gejala dapat hilang selama beberapa hari, minggu atau beberapa bulan dan bahkan dapat hilang hanya sampai terlihat kembali, sering tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi.
·         Manifestasi Gastritis Akut :
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan juga perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya, jika dilakukan anemnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu.
·         Manifestasi Gastritis Kronis :
Pasien dengan gastritis tipe A secara khusus asimtomatik kecuali untuk gejala defisiensi vitamin B12. Pada gastritis tipe B, pasien mengeluh anoreksia ( nafsu makan buruk ), nyeri ulu hati satalah makan, kembung rasa asam mulut, atau mual dan muntah.

5.      Pemeriksaan diagnosis
a.       Diagnosis Gastritis Akut
Tiga cara dalam menegakkan diagnosis, yaitu gambaran klinis, gambaran lesi mukosa akut di mukosa lambung berupa erosi atau ulkus dangkal dengan tepi rata pada endoskopi, dan gambaran radiologi. Dengan kontras tunggal sukar untuk melihat lesi permukaan yang super fisial, karena itu sebaiknya digunakan kontras ganda. Secara umum peranan endoskopi saluran cerna bagian atas lebih sensitif dan spesifik untuk diagnosis kelainan akut lambung.
b.      Diagnosis Gastritis  Kronik
Diagnosis gastritis kronik ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi mukosa lambung. Perlu pula dilakukan kultur untuk membuktikan adanya infeksi Helicobacter pylori apalagi jika ditemukan ulkus baik pada lambung ataupun pada duodenum, mengingat angka kejadian yang cukup tinggi yaitu hampir mencapai 100%. Dilakukan pula rapid ureum test (CLO). Kriteria minimal untuk menegakkan diagnosis H.pylori jka hasil CLO dan atau PA positif. Dilakukan pula pemeriksaan serologi untuk H.pylori sebagai diagnosis awal.

6.      Pemeriksaan Penunjang
Bila pasien didiagnosis terkena Gastritis, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui secara jelas penyebabnya.
Pemeriksaan ini meliputi :
a.       Pemeriksaan Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. Pylori dalam darah, dan untuk memeriksa Anemia, yang terjadi akibat pendarahan lambung akibat Gastritis.
b.      Pemeriksaan Pernafasan
Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri H. Pylori atau tidak.
c.       Pemeriksaan Feses
Tes ini memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif mengindikasikan terjadi infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukan adanya perdarahan pada lambung.
d.      Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas
Dengan test ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dengan sinar-X.
e.       Ronsen Saluran Cerna Bagian Atas
Test ini akan melihat adanya tanda-tanda Gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya pasien akan diminta menelan cairan Barium terlebih dahulu sebelum dilakukan Ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika dironsen.

7.      Pencegahan
Walaupun infeksi H.Pylori tidak dapat selalu dicegah, berikut beberapa saran untuk dapat mengurangi resiko terkena Gastritis.
a.        Makan secara benar
Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan, atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.
b.      Hindari Alkohol
Penggunaan Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapaisan mucosa lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan perdarahan.
c.        Jangan merokok
Merokok mengganggu kerja lapisan lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap Gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung.
d.       Lakukan olah raga secara teratur
Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernafasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktivitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.
e.       Kendalikan stress
Stres meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stres juga dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memperlambat kecepatan pencernaan. Karena stres bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah dengan mengendalikannya secara efektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.
f.       Ganti obat penghilang nyeri
Jika memungkinkan ahindari penggunaan AINS, obat-obat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandung Acetaminophen.
g.       Ikuti rekomendasi dokter

8.      Komplikasi
a.       Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.
b.       Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus.





9.      Penatalaksanaan
·       Penatalaksaan Medik Gastritis
a.   Gastritis Akut
Pemberian obat-obatan H2 blocking (Antagonis reseptor H2). Inhibitor pompa proton, ankikolinergik dan antasid (Obat-obatan ulkus lambung  yang lain). Fungsi obat tersebut untuk mengatur sekresi asam lambung.
b.  Gastritis Kronik
Pemberian obat-obatan atau pengobatan empiris berupa antasid, antagonis H2 atau inhibitor pompa proton.
·      Penatalaksanaan Keperawatan Gastritis
-            Memberi penjelasan pada penderita untuk menghindari alkohol dan makanan pedas sampai gejala berkurang/hilang.
-            Dilakukan terapi simtomatik dengan diberikan obat yang menetralkan/mengurangi asam lambung (antacid,antikolinergik).
-            Bila terjadi peradangan disertai erosi mukosa lambung dapat diberikan obat antagonis golongan reseptor H2 (cimetidin,ranitidine,atau famotidin)
-            Pembedahan darurat mungkin dilakukan untuk mengangkat gangrene/jaringan perforasi.
-            Dapat dilakukan gastrojejunostomi (reseksi lambung) untuk mengatasi obstruksi pylori.
-            Mengurangi stress
-            Diberikan vitamin B12 bila terjadi anemia pernisiosa





















    II.            Konsep Dasar Asuhan Keperawatan pada Klien Gastritis
1.      Pengkajian
a.       Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
b.      Keluhan utama
Klien mengatakan nyeri di daerah epigastrium disertai mual dan muntah.
c.       Riwayat Penyakit Sekarang
Klien nyeri epigastrium, mual, kembung dan muntah, perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena disertai anemia pasca perdarahan.
d.      Riwayat Penyakit Keluarga
 Apakah pada anggota keluarga yang lain ada yang       menderita penyakit yang sama dengan klien
e.       Pemeriksaan Fisik
·         Status Kesehatan Umum:
                            Pada klien gastritis keadaan penyakit bisa ringan, sedang sampai berat.
·         Kepala
     Pada klien grastitis tidak terjadi kelainan pada kepala.
·         Muka
Pada klien gastritis pada umumnya terdapat tics karena nyeri pada epigastrium
·         Mata
Pada klien dengan Gatritis tidak terdapat icterus maupun hiperemi pada mata.
·         Abdomen
Adanya Hepatogemali atau tidak pada gastritis terdapat mual, muntah dan nyeri pada epigastrium disertai rasa kembung.
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
b.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
c.       Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa lambung.
d.      Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
e.       Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.
3.      Intervensi keperawatan
a.       Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
Tujuan      :  Resti gangguan keseimbangan cairan tidak terjadi.
Kriteria Hasil:  membran mukosa lembab, turgor kulit baik, elektrolit kembali normal, pengisian kapiler berwarna merah muda, tanda vital stabil, input dan output seimbang.
Intervensi
Rasionalisasi
1.      Catat karakteristik muntah/ drainase









2.      Awasi tanda vital.






3.      Awasi masukan keluaran dihubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah / cairan melalui muntah, penghisapan gaster/ lavase dan depekasi.

4.      Pertahankan tirah baring , mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istrahat tanpa gangguan.
5.      Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasia.
1.       Membantu dalam membedakan penyebab distress gaster . Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan pylorus terbuka kandungan fekal menunjukkan obstruksi usus. Darah merah cerah atau perdarahan menandakan adanya arterian akut.

2.      perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan perkiraan kasar kehilangan darah ( misalnya TD < 90 mmHg. Dan nadi > 110 diduga 25% penurunan volume atau kurang lebih 1000 ml).
3. memberikan pedoman untuk penggantian cairan.




3.      Aktivitas atau muntah meningkatkan tekanan intra abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut.
5. Mencegah reflex gaster pada aspirasi antasida dimana dapat menyebabkan komplikasi paru.

b.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
Tujuan             : Gangguan nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil: Berat badan stabil, nilai laboratorium  Albumin normal, tidak mual dan muntah BB dalam batas normal, bising usus normal.


Intervensi
Rasionalisasi
1.      Kaji pola makan klien.

2.      Beri makanan yang bervariasi.
3.      Beri makanan yang lunak,sedikit,tapi sering.
4.      Mengukur BB setiap hari dengan timbangan yang sama.
1.      Untuk mengetahui jumlah asupan nutrisi bagi klien.
2.      Makanan bervariasi merangsang selera makan.
3.      Mencegah kekosongan lambung dan memudahkan absorbsi terhadap lambung.
4.       Mengetahui perkembangan status nutrisi klien.

c.       Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa lambung.
Tujuan           :  Nyeri dapat berkurang/hilang.
Kriteria Hasil: Nyeri hilang/terkontrol, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat, skala nyeri menunjukkan angka 0.
Intervensi
Rasionalisasi
1.      Observasi TTV


2.      Kaji tingkat nyeri tiap 4 jam.

3.      Anjurkan klien posisi semi fowler.

4.      Penatalaksaan dalam pemberian obatulsidex 3x1
1.      Untuk mengetahui keadaan kliendan memudahkan dalam melakukan tindakan selanjutnya.
2.      Untuk mengetahui tingkat skala nyeri sebagai pedoman untuk tindakan.
3.      Dengan posisi semi fowler, organ yang sakit tidak tertekan.
4.      Untuk menekan peningkatan asam lambung.

d.      Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan           :  Keterbatasan aktifitas teratasi.
Kriteria Hasil: Keadaan umum composmentis, klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.

Intervensi
Rasionalisasi
1.      Tingkatkan tirah baring atau duduk, berikan lingkungan yg tenang dan nyaman, batasi pengunjung, dorong penggunaan tekhnik relaksasi, kaji nyeri tekan pada gaster,berikan obat sesuai dengan indikasi.
1.      Klien lebih merasa aman dan nyaman dari sebelumnya saat beraktifitas.







e.       Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.



Tujuan             :  Pengetahuan klien bertambah.
Kriteria Hasil: Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan.
Intervensi
Rasionalisasi
1.      Kaji tingkat pengetahuan klien, beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.
1.      Agar klien dan keluarga dapat mengerti dan memahami dari penyakit yang diderita serta dapat melakuakn tindakan mandiri bila penyakit tersebut kambuh lagi.

4.      Evaluasi
Evaluasi pada klien dengan Gastrtitis, yaitu :
a.       Keseimbangan cairan dan elektrolit teratasi
b.      Kebutuhan nutrisi teratasi
c.       Gangguan rasa nyeri berkurang
d.      Klien dapat melakukan aktifitas
e.       Pengetahuan klien bertambah.



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan secara hispatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada  daerah tersebut. 
Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi faktor-faktor lain seperti trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga menyebabkan gastritis.
B.     Saran
·         Tenaga Keperawatan
Diharapkan mampu memahami tentang penatalaksanaan pada pasien dengan gastritis.
·         Mahasiswa
Diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan bagi semua mahasiswa tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan gastritis.


DAFTAR PUSTAKA

1.      Doengoes M.E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . EGC. Jakarta.
2.      Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
3.      Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
4.      Wilkinson, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC, 2007
5.      http://nursingbegin.com/askep-gastritis/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar